Regan merupakan anak jalanan yang tergabung dalam geng motor dan sangat disegani, dia juga mempunyai kehidupan yang sangat kelam. Alana memilih untuk pindah sekolah bahkan pindah rumah hanya untuk menghindari Regan. ditambah mamanya yang sangat over protektif terhadapnya, namun Regan berhasil menemukannya.
Saat Alfi tahu kalau Alana merasa trauma terhadap Regan, dia berusaha melindungi Alana. Dan berkat usaha dari Keenan (sahabat Alfi), akhirnya Alfi semakin dekat sampai akhirnya menaruh hati pada Alana. Alana semakin yakin melupakan masa lalunya dengan Regan dan mencoba membuka hatinya ke Alfi.
Kebahagiaan Alana harus pupus saat Sabitha, teman satu sekolahnya yang kesuciannya direnggut paksa oleh Regan mulai membuka semua rahasia tentang Regan. Bahkan dia juga menyebutkan kalau Regan tak lain adalah kakak kandung Alfi.
Klise, basi, dan menjenuhkan. Tiga hal itulah yang terbenak dalam pikiran saya setelah menonton film ini. agak mengherankan sebenarnya setelah Dua Garis Biru berhasil menaikan level tontonan film macam ini menjadi berkelas dan sedikit menumbuhkan kepercayaan terhadap saya pribadi dalam menonton film drama anak
sekolahan dari Indonesia. Dignitate justru seperti menghacurkan kepercayaan yang sudah dibangun itu.
Saya pribadi bukan tidak suka dengan genre film seperti ini. beberapa film romansa anak sekolahan dari Indonesia pun sebenarnya banyak yang memang mengundang decak kagum. sebut saja film Posesif karya Edwin yang berhasil ngebondol beberapa penghargaan di FFI beberapa tahun yang lalu. Atau Dua Garis Biru Karya Gina S Noor yang memang berhasil menyuguhkan cerita cinta anak SMA dengan isu yang berhasil membuat saya pribadi terpana.
Dignitate seperti dibikin dengan terburu – buru tanpa adanya kematangan cerita. Formula yang dipakaipun bisa dibilang begitu klise dan basi. Tak ada bedanya seperti tontonan cerita anak SMA di decade 2000-an yang memang masa di mana perfilman Indonesia sedang turun – turunnya.
Mungkin diboyongnya Al Ghazali dan Caitlin Halderman hanya untuk menarik pangsa pasar pemuda pemudi di Indonesia karena memang ke dua pemeran itu sedang sering – seringnya hadir di beberapa film layar lebar Indonesia.
Lihat Juga : Lk21 Indo xxi
Babak demi babak dilalui dengan begitu membosankan. Dibalut dengan adegan – adegan usang yang sama sekali tak membuat decak kagum. dan diakhiri dengan sebuah plot twist yang terkesan memaksa.
Kemistri Alana dan alfi pun begitu karbitan. Sama sekali tidak membuat kita sebagai penonton peduli atas apa yang terjadi di antara ke dua bintang utama dalam film Dignitate ini. (asik sendiri dan penontonnya dikacangin)
Memang secara kulitas teknis, film ini tak bisa dipandang sebelah mata. Eksekusi di setiap adegan baku hantam dan Color Gradingnya yang begitu memanjakan mata. Tapi sayang, hal itu dihancurkan dengan cerita dan akting di setiap jajaran castnya yang bisa disebut memaksa dan membosankan. Sorry to say.
Sumber: bioskoptoday.com